Beranda | Artikel
Bacaan Itidal: Pujian Sepenuh Langit dan Bumi
Jumat, 16 Januari 2026

Bacaan I’tidal: Pujian Sepenuh Langit dan Bumi ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 16 Rajab 1447 H / 5 Januari 2026 M.

Kajian Tentang Bacaan I’tidal: Pujian Sepenuh Langit dan Bumi

Pada pembahasan sebelumnya, telah diuraikan empat jenis bacaan pendek. Kali ini, pembahasan berlanjut pada bacaan yang berukuran sedang. Bacaan ini cukup familier di telinga umat Islam, yakni:

اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَىْءٍ بَعْدُ

“Ya Allah, wahai Rabb kami, segala puji bagi-Mu sepenuh langit, sepenuh bumi, dan sepenuh apa pun yang Engkau kehendaki selain dari langit dan bumi.”

Dalil dan Makna Kandungan

Dzikir ini memiliki landasan hukum yang kuat. Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abdullah bin Abi Aufa Radhiallahu ‘Anhuma, menuturkan bahwa saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengangkat pundaknya dari rukuk, beliau mengucapkan Sami’allahu liman hamidah, kemudian diikuti dengan bacaan Allahumma rabbana lakal hamdu mil’as samawati wa mil’al ardhi wa mil’a ma syi’ta min syai’in ba’du(HR. Muslim).

Dzikir ini mengandung pengajaran untuk memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan pujian yang luar biasa besar. Pujian tersebut digambarkan “sepenuh langit dan bumi”. Langit merupakan makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat besar, baik dari segi ukurannya maupun jumlah penghuninya. Mengenai jumlah tentara Allah Subhanahu wa Ta’ala, hanya Dia yang mengetahui hakikat jumlahnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ

“Dan tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri.” (QS. Al-Muddatstsir[74]: 31).

Besarnya jumlah penghuni langit yang sujud kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala digambarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sebuah hadits:

 أَطَّتْ السَّمَاءُ وَحُقَّ لَهَا أَنْ تَئِطَّ مَا فِيهَا مَوْضِعُ أَرْبَعِ أَصَابِعَ إِلَّا وَمَلَكٌ وَاضِعٌ جَبْهَتَهُ سَاجِدًا لِلَّهِ

“Langit merintih (berderit) dan layak baginya untuk merintih. Tidak ada satu ruang seukuran empat jari pun di sana, melainkan ada malaikat yang sedang meletakkan dahinya bersujud kepada Allah.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Luasnya Pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Luasnya ruang di langit sulit dibayangkan oleh nalar manusia. Setiap jarak empat jari di sana terdapat satu malaikat yang bersujud kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika rumah yang kecil saja memiliki ukuran jari yang tak terhitung jumlahnya, maka langit yang tujuh lapis memiliki luas yang melampaui angka jutaan, miliaran, bahkan triliunan. Seluruh galaksi yang dikenal manusia, termasuk Bima Sakti beserta planet-planet seperti Mars, Saturnus, dan Venus, hanyalah bagian kecil dari ciptaan-Nya. Puji-pujian yang diucapkan seorang hamba saat i’tidal, yang disebut setara dengan isi langit (mil’as samawati), mencakup seluruh penghuni dan kemegahan alam semesta tersebut.

Namun, pujian setinggi langit saja belum cukup untuk mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pujian tersebut harus pula seluas bumi beserta seluruh isinya (wa mil’al ardhi). Pendataan manusia melalui sensus penduduk tidak mampu menggambarkan seluruh penghuni bumi. Masih terdapat bangsa jin, hewan, tumbuhan, hingga mikroorganisme yang jumlahnya tidak terhitung. Baik di daratan maupun di lautan, jumlah makhluk yang tidak diketahui manusia jauh lebih banyak daripada yang diketahui. Bahkan di dalam tubuh manusia terdapat jutaan sel dan kuman yang luput dari penglihatan tanpa bantuan mikroskop. Seluruh makhluk tersebut adalah tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Alasan utama seorang hamba harus memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala sebanyak itu adalah karena Allah Maha Agung. Hal ini ditegaskan setiap kali memulai shalat dengan kalimat:

اللهُ أَكْبَرُ

“Allah Maha Besar.”

Segala pujian setinggi langit dan seluas bumi sebenarnya tidak akan pernah sebanding dengan kebesaran Allah ‘Azza wa Jalla. Terlebih lagi, nikmat yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya tidak memiliki batas. Manusia tidak akan pernah sanggup menjumlahkan nikmat tersebut sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an:

وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. An-Nahl[16]: 18).

Nikmat tersebut mencakup urusan duniawi maupun ukhrawi. Nikmat duniawi yang paling sederhana namun sering terlupakan adalah kesempatan untuk bernapas. Pengalaman masa pandemi menunjukkan betapa berharganya oksigen ketika manusia harus bersusah payah mendapatkannya di rumah sakit. Selain nafas, kemampuan untuk mendengar, melihat, dan berbicara adalah karunia yang sangat besar. Semua kenikmatan ini merupakan alasan kuat bagi setiap lisan untuk terus memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala, terutama saat berdiri tegak dalam i’tidal.

Download mp3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajianBacaan I’tidal: Pujian Sepenuh Langit dan Bumi” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/55962-bacaan-itidal-pujian-sepenuh-langit-dan-bumi/